Flame sensor merupakan sensor yang mempunyai fungsi sebagai pendeteksi nyala api yang dimana api tersebut memiliki panjang gelombang antara 760nm – 1100nm. Sensor ini menggunakan infrared sebagai tranduser dalam mensensing kondisi nyala api.
RESISTOR
Resistor merupakan komponen elektronik pasif yang memiliki nilai resistasi atau nilai hambatan tertentu, yang fungsinya untuk mengatur arus dan tegangan listrik.
TRANSISTOR
Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung arus, stabilisasi tegangan, dan modulasi sinyal
Spesifikasi
Bi-Polar NPN Transistor
DC Current Gain (hFE) is 800 maximum
Continuous Collector current (IC) is 100mA
Emitter Base Voltage (VBE) is 6V
Base Current(IB) is 5mA maximum
Available in To-92 Package
RELAY
Relay merupakan komponen listrik yang unik, normalnya relay berfungsi sebagai saklar elektro magnetik. Namun ketika berada pada rangkaian
Mengendalikan sirkuit tegangan tinggi dengan menggunakan bantuan signal tegangan rendah.
Memberikan time delay function atau fungsi penundaan waktu.
Melindungi komponen lainnya dari korsleting atau kelebihan tegangan.
BUZZER
Buzzer Elektronika adalah sebuah komponen elektronika yang dapat menghasilkan getaran suara berupa gelombang bunyi. Buzzer elektronika akan menghasilkan getaran suara ketika diberikan sejumlah tegangan listrik dengan taraf tertentu sesuai dengan spesifikasi bentuk dan ukuran buzzer elektronika itu sendiri.
POWER SUPPLY
power supply adalah salah satu hardware di dalam perangkat komputer yang berperan untuk memberikan suplai daya
VOLTMETER
VOLTMETER DC adalah alat ukur yang berfungsi untuk mengetahui beda potensial tegangan DC antara 2 titik pada suatu beban listrik atau rangkaian elektronika
GROUND
Grounding berfungsi sebagai penghantar arus listrik langsung ke bumi atau tanah saat terjadi kebocoran isolasii atau percikan api pada konsleting .
sensor ini sering juga digunakan untuk mendeteksi api pada ruangan di perkantoran, apartemen, maupun di perhotelan. Suhu normal pembacaan normal sensor ini yaitu pada 25 – 85°C dengan besar sudut pembacaan pada 60°.
Dengan memperhatikan jarak sensing antara objek yang akan disensing dengan sensor tidak boleh terlalu dekat, yang berakibat lifetime sensor yang cepat rusak.
Cara Kerja Sensor Flame
Cara kerja sensor ini yaitu dengan mengidentifikasi atau mendeteksi nyala api dengan menggunakan metode optik. Pada sensor ini menggunakan tranduser yang berupa infrared (IR) sebagai sensing sensor. Tranduser ini digunakan untuk mendeteksi akan penyerapan cahaya pada panjang gelombang tertentu.
Yang dimana memungkinkan alat ini untuk membedakan antara spectrum cahaya pada api dengan spectrum cahaya lainnya seperti spectrum cahaya lampu.
Fitur dari flame sensor
Tegangan operasi antara 3,3 – 5 Vdc
Terdapat 2 output yaitu digital output dan analog output yang berupa tegangan
Sudah terpackage dalam bentuk modul
Terdapat potensiometer sebagai pengaturan sensitivitas sensor dalam mensensing
RESISTOR
Resistor adalah komponen dasar elektronika yang selalu digunakan dalam setiap rangkaian elektronika karena bisa berfungsi sebagai pengatur atau untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam suatu rangkaian. Dengan resistor, arus listrik dapat didistribusikan sesuai dengan kebutuhan. Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol Ω (Omega).
Simbol Resistor :
Cara menghitung nilai resistor :
Rumus :
1. Jika rangkaian seri, maka :
2. Jika rangkaian paralel, maka :
Cara menghitung nilai Resistor berdasarkan Kode Warna
Seperti yang dikatakan sebelumnya, nilai Resistor yang berbentuk Axial adalah diwakili oleh Warna-warna yang terdapat di tubuh (body) Resistor itu sendiri dalam bentuk Gelang. Umumnya terdapat 4 Gelang di tubuh Resistor, tetapi ada juga yang 5 Gelang.
Gelang warna Emas dan Perak biasanya terletak agak jauh dari gelang warna lainnya sebagai tanda gelang terakhir. Gelang Terakhirnya ini juga merupakan nilai toleransi pada nilai Resistor yang bersangkutan.
Tabel dibawah ini adalah warna-warna yang terdapat di Tubuh Resistor :
Perhitungan untuk Resistor dengan 4 Gelang warna :
Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-1 (pertama) Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-2 Masukkan Jumlah nol dari kode warna Gelang ke-3 atau pangkatkan angka tersebut dengan 10 (10n) Merupakan Toleransi dari nilai Resistor tersebut
Contoh :
Gelang ke 1 : Coklat = 1 Gelang ke 2 : Hitam = 0 Gelang ke 3 : Hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105 Gelang ke 4 : Perak = Toleransi 10% Maka nilai Resistor tersebut adalah 10 * 105 = 1.000.000 Ohm atau 1 MOhm dengan toleransi 10%.
TRANSISTOR
Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung arus, stabilisasi tegangan, dan modulasi sinyal
Pin 1 sebagai base, gunanya menerima arus positif untuk membuka aliran arus yang terkumpul di pin 2 collector
pin 2 sebagai collector, men ampung arus ketika base belum terbuka
pin 3 sebagai emittor, mpeat tujuan arus dari collector menuju ground
cara kerja:
ketika arus menuju collector maka arus akan tertahan sampai akhirnya base terisi oleh arus dan tegangan posiitif kemudian arus akan menuju emittor kemudian diteruskan menuju ground.
Karakteristik Transistor
Penggunaan fungsi dari sebuah transistor dapat dengan memanfaatkan karakteristik dari masing-masing daerah kerja sebuah transistor. Selain itu, dengan karakteristik transistor juga bisa digunakan untuk menganalisa arus dan tegangan transistor.
Karakteristik dari masing-masing daerah operasi transistor diringkas seperti berikut:
Daerah potong atau cutoff Dioda emiter diberi prategangan mundur yang mengakibatkan tidak terjadi pergerakan elektro yang menjadi arus Basis, IB = 0. Serta arus pada Kolektro, IC = 0 atau bisa juga disebut ICEO (Arus Kolektor ke Emiter dengan harga arus Basis yaitu 0).
Daerah Saturasi Pada daerah ini dioda Emiter diberi prategangan maju yang menyebabkan atis Kolektor, IC akan meraih harga maksium, dengan tidak bergantung pada arus Basis, IB, dan βdc. Hal tersebut membuat Transistor menjadi komponen yang tidak bisa dikontrol. Maka dari itu, untuk menjauhkan daerah ini, Dioda Kolektor wajib diberi prategangan mundur dengan tegangan yang melebihi VC(sat), atau yang bisa disebut tegangan yang mengakibatkan Dioda Kolektor saturasi.
Daerah Aktif Pada daerah ini Dioda Emiter diberi prategangan maju sementara Dioda Kolektor diberi prategangan mundur yang akan mengakibatkan sifat-sifat sebagai berikut.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, transistor menjadi komponen yang dapat dikontrol.
Daerah Breakdown Sementara pada daerah ini, Dioda Kolektor mempunyai prategangan mundur yang melebihi tegangannya Breakdown yang mana tegangan Kolektor ke Emiter ketika Arus Basis adalah nol. Hingga arus Kolektor, IC, melebihi cara dibolehkan. Serta transistor bisa menjadi rusak
BUZZER
Pada dasarnya, setiap buzzer elektronika memerlukan input berupa tegangan listrik yang kemudian diubah menjadi getaran suara atau gelombang bunyi yang memiliki frekuensi berkisar antara 1 - 5 KHz. Jenis buzzer elektronika yang sering digunakan dan ditemukan dalam rangkaian adalah buzzer yang berjenis Piezoelectric (Piezoelectric Buzzer). Hal itu karena Piezoelectric Buzzer memiliki berbagai kelebihan diantaranya yaitu lebih murah, relatif lebih ringan dan lebih mudah penggunaannya ketika diaplikasikan dalam rangkaian elektronika.
Efek Piezoelektrik (Piezoelectric Effect) ditemukan pertama kali oleh dua orang ilmuwan Fisika pada tahun 1880 bernama Pierre Curie dan Jacques Curie yang berasal dari kebangsaan Perancis. Penemuan tersebut kemudian dikembangkan oleh sebuah perusahaan Jepang menjadi Piezoelectric Buzzer dan mulai populer digunakan pada tahun 1970-an.
Dalam rangkaian elektronika, piezoelectric buzzer dapat digunakan pada tegangan listrik sebesar 6 volt hingga 12 volt dan dengan tipikal arus sebesar 25 mA. Buzzer yang termasuk dalam keluarga Transduser ini sering disebut juga dengan Beeper.
BENTUK DAN SIMBOL BUZZER ELEKTRONIKA
Pada umumnya Buzzer Elektronika memiliki bentuk seperti tabung silinder dengan sebuah lubang kecil di bagian atas dan dua buah pin/kaki di bagian bawah. Berikut adalah bentuk dan simbol Buzzer Elektronika :
FUNGSI BUZZER ELEKTRONIKA
Pada dasarnya Buzzer Elektronika menyerupai loud speaker namun memiliki fungsi-fungsi yang lebih sederhana. Berikut adalah beberapa fungsi buzzer elektronika :
Sebagai bel rumah
Alarm pada berbagai peralatan
Peringatan mundur pada truk
Komponen rangkaian anti maling
Indikator suara sebagai tanda bahaya atau yang lainnya
Timer
Dan lain-lain
PRINSIP KERJA BUZZER ELEKTRONIKA
Pada dasarnya, prinsip kerja dari buzzer elektronika hampir sama dengan loud speaker dimana buzzer juga terdiri dari kumparan yang terpasang secara diafragma. Ketika kumparan tersebut dialiri listrik maka akan menjadi elektromagnet sehingga mengakibatkan kumparan tertarik ke dalam ataupun ke luar tergantung dari arah arus dan polaritas magnetnya. Karena kumparan dipasang secara diafragma maka setiap kumparan akan menggerakkan diafragma tersebut secara bolak-balik sehingga membuat udara bergetar yang akan menghasilkan suara.
Namun dibandingkan dengan loud speaker, buzzer elektronika relatif lebih mudah untuk digerakkan. Sebagai contoh, buzzer elektronika dapat langsung diberikan tegangan listrik dengan taraf tertentu untuk dapat menghasilkan suara. Hal ini tentu berbeda dengan loud speaker yang memerlukan rangkaian penguat khusus untuk menggerakkan speaker agar menghasilkan suara yang dapat didengar oleh manusia
RELAY
Relay Elektromekanik
Relay adalah sebuah sakelar elektromekanik digunakan sebagai perangkat melindungi dan juga sebagai perangkat pengendali untuk berbagai rangkaian, peralatan, dan jaringan listrik di sistem tenaga. Relay Elektromekanik dapat didefinisikan sebagai sakelar yang dioperasikan secara elektrik yang melengkapi atau menginterupsi rangkaian dengan gerakan fisik kontak listrik ke kontak satu sama lain.
Karakteristik Relay Elektromekanik
Aliran arus melalui konduktor listrik menyebabkan medan magnet pada sudut kanan ke arah aliran arus. Jika konduktor ini dibungkus untuk membentuk sebuah coil (coil), maka medan magnet yang dihasilkan akan berorientasi sepanjang coil. Jika arus yang mengalir melalui konduktor meningkat, maka kekuatan medan magnet juga meningkat (dan sebaliknya).
Medan magnet yang dihasilkan dengan melewatkan arus melalui coil dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti induktor, konstruksi transformator menggunakan dua coil induktor dengan inti besi. Namun, dalam konstruksi Relay Elektromekanik medan magnet yang diproduksi dalam coil digunakan untuk mengerahkan kekuatan mekanik pada benda-benda magnetik.
Ini mirip dengan magnet permanen yang digunakan untuk menarik benda magnet, tetapi di sini medan magnet dapat dihidupkan atau dimatikan dengan mengatur aliran arus melalui coil. Jadi, kita dapat mengatakan bahwa operasi Relay Elektromekanik tergantung pada arus yang mengalir melalui coil.
Prinsip Kerja Relay Elektromekanik
Relay Elektromekanik terdiri dari berbagai bagian seperti angker bergerak, kontak bergerak & kontak stasioner atau kontak tetap, pegas, elektromagnet (coil), kawat yang dibungkus sebagai coil dengan terminalnya diwakili sebagai 'C' yang terhubung seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini untuk membentuk Relay Elektromekanik.
Jika tidak ada supply yang diberikan ke terminal coil, maka relai tetap dalam kondisi mati seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini dan beban yang terhubung ke relai juga tetap dimatikan karena tidak ada catu daya yang diberikan untuk memuat.
Jika coil relay diberi energi dengan memberikan supply ke terminal coil di 'C', maka kontak relay yang bergerak akan tertarik ke arah kontak tetap. Dengan demikian, relay menyala dan supply terhubung ke beban seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Ada berbagai jenis relay, relay yang diberi energi oleh supply listrik dan melakukan tindakan mekanis (hidup atau mati) untuk menghubungkan atau memutus rangkaian yang disebut sebagai Relay Elektromekanik. Ada berbagai jenis relay seperti relay Buchholz, relay latching, relay terpolarisasi, relay merkuri, relay solid state, relay vakum, dan sebagainya.
VOLT METER
Cara Menggunakan Voltmeter
Jika Kalian belum mengetahui cara menggunakan voltmeter ini, berikut dapat Kalian simak:
Rangkai komponen yang mempunyai potensial berbeda secara parallel dengan rangkaian listrik yang akan diukur tegangannya.
Tegangan listrik hasil pengukuran voltmeter dirumuskan:
Tegangan (V)= (Angka yang ditunjukkan jarum voltmeter/ skala maksimum) x batas ukur
Sesuaikan rangkaian arus yang mana harus searah dengan pemasangan kutub- kutub voltmeter.
Pastikan bahwa kutub positif dan negatif memiliki potensial yang berbeda. Dari keduanya, kutub positif mempunyai potensial yang tinggi.
Periksa kabel hitam, biru, dan merah, jika terdapat penyimpangan mengarah ke kiri berarti pemasangannya terbalik. Tetapi, hal itu tidak akan menjadi masalah untuk rangkaian arus bolak balik.
Macam-Macam Voltmeter
Voltmeter ini terdiri dari 2 macam yaitu Analog dan Digital.
Apa perbedaan dari keduanya?
voltmeter yang terpasang secara paralel pada suatu rangkaian dapat dijadikan patokan sebagai cara untuk mengetahui tegangan. Kutub alat ukur ini juga harus searah dengan arus baik kutub positif maupun kutub negatif.
Pada jenis digital, pemasangan terbalik akan terlihat jika muncul angka negatif. Oleh karenanya, pemasangan haruslah sesuai dan benar. Nah, Untuk spesifik perbedaan dari kedua jenis alat ini bisa diketahui sebagai berikut:
Tegangan DC lebih sulit dinaikkan dibandingkan dengan tegangan AC yang mudah.
Transmisi dari pembangkit kepada pelanggan lebih mudah listrik AC dibandingkan listrik DC.
Dari kedua jenis ini, DC merupakan pembangkit listrik yang lebih simpel serta mudah digunakan.
Terdapat nilai maksimum dan juga minimum untuk arus dan tegangan AC, tidak sama halnya dengan DC yang tidak terdapat nilai yang dimaksud.
Spesifikasi Voltmeter
Berikut merupakan spesifikasi yang tidak hanya berlaku pada suatu instrumen saja, tetapi data ini diharapkan bisa memberikan gambaran kondisi saat ini.
Angka rangkuman masukan biasanya di mulai dari± 1, 000000 V hingga s/ d± 1000, 000 V( Prosedur pemilihan rangkuman dilakukan dengan cara otomatis dan indikasi beban lebih).
Ketelitian mutlak tercatat mencapai± 0, 005 persen dari pembacaan yang sudah dilakukan.
Angka stabilitas untuk jangka pendek sebesar 0, 002 persen dari pembacaan( periode 24 jam). Sedangkan untuk jangka panjang sebesar 0, 008 persen pembacaan( periode 6 bulan).
Resolusi untuk 1 bagian dalam 106 yaitu 1μV dapat dibaca pada rangkuman dari masukan 1 V.
Karakteristik masukannya ialah tahanan masukan khas sebesar 10 MΩ dengan kapasitas masukan 40 pF.
Kalibrasi yang standar( internal) tidak tergantung pada rangkaian ukuran yang mana sudah diperoleh dari sumber referensi yang sudah stabil.
Terdapat beberapa sinyal keluaran seperti perintah mencetak.
Type Voltmeter
Type voltmeter digital dikelompokkan menjadi 4 jenis diantaranya yaitu:
Voltmeter digital ramp type DVM.
Voltmeter digital type intergrasi DVM.
Voltmeter digital type continuous balance DVM.
Voltmeter digital type successive approximating DVM.
Cara Kerja Voltmeter
Perlu Kalian ketahui, pengertian voltmeter ialah suatu alat ukur yang mempunyai prinsip kerja tertentu. Ada fluksi magnetik yang memiliki bentuk seperti gelombang sinus yang mana frekuensinya sama.
Fluksi magnetik tersebut nantinya akan memasuki kepingan logam secara paralel. Terdapat perbedaan fase dari satu fluks dengan yang lainnya. Tegangan tegangan yang menimbulkan arus putar dalam kepingan itu dipengaruhi karena terdapatnya fluks yang bolak- balik.
Untuk pengertian voltmeter jenis digital, angka diskrit merupakan gambaran atau aktualisasi dari pengukuran terhadap DC dan juga AC. Angka ini dijadikan sebagai alternatif dari defleksi jarum penunjuk dalam alat ukur jenis analog. Penunjukan yang dicoba terhadap angka untuk berbagai keperluan justru sangat menguntungkan. Kenapa? berikut merupakan alasannya:
Bisa meminimalisir problem maupun kesalahan pembacaan oleh manusia dan interpolasi.
Menghindari terbentuknya kesalahan parataksis.
Bisa tingkatkan kecepatan pembacaan.
Bisa dijadikan sebagai pelengkap daripada keluaran yang dalam bentuk digital, yaitu bersumber pada pengolahan dan juga pencatatan selanjutnya.
Jenis digital merupakan jenis yang dapat diteliti serta pula diandalkan, sehingga bisa dipakai untuk berbagai keperluan pengukuran di dalam laboratorium.
Jenis digital dipercaya dapat bersaing dengan alat- alat analog yang bersifat konvensional. Perihal ini disebabkan pertumbuhan dan penyempurnaan modul rangkaiannya menurun. Tidak cuma modul, namun juga kebutuhan daya, harga, sampai ukuran.
Ciri operasi serta ciri khas menunjukkan kalau kualitas jenis digital lebih unggul.
GROUND
Grounding listrik adalah suatu sistem instalasi listrik yang bisa meniadakan beda potensial sebagai pelepasan muatan listrik berlebih pada suatu instalasi listrik dengan cara mengalirkannya ke tanah sehingga istilah sehari hari yang sering digunakan yaitu pentanahan atau arde.
ketika sensor mendeteksi api maka dengan loogic toogle 1 sensor akan diberikan tegangan sebesar 12v dan nantinya akan menjadi vout sekitar 4 volt, kemuadian ditambah reistor untuk ngecilkan tegangan yang masuk ke base transistor, jika tegangan mencapai 0.62v pada base maka transistor akan aktif dan relay juga akan aktif sehingga switsh berpindah dan mengaktifkan buzzer sebagai alarm peringatan bahwa ada api
Tidak ada komentar:
Posting Komentar